TUJUAN DAN MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN
MATERI
Yang diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Supervisi Pendidikan Islam
Yang diampu oleh :
Habibi Yusuf, S.Pd.I.,
M.Pd.I.

Disusun oleh :
Siska Dwi Agustin (1721143373)
Kelas/semester
: F/5
Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas
: FTIK (Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan)
INSTITUT AGAMA
ISLAM NEGERI (IAIN) TULUNGAGUNG
DESEMBER 2016
A.
PENGERTIAN SUPERVISI PENDIDIKAN ISLAM
Supervisi merupakan suatu kegiatan pengarahan terhadap kinerja tenaga
pendidik untuk memperbaiki suatu sistem pembelajaran dan pengajaran, merevisi
tujuan-tujuan pendidika, bahan-bahan pengajaran serta metode mengajar serta
evaluasi pengajaran agar dapat diterima peserta didik sehingga visi dan misi
yang telah disusun di dalam lembaga tersebut dapat terwujud yang akhirnya mampu
melahirkan tenaga pendidik yang profesional dan peserta didik yang berkualitas.
Sedangkan supervisi pendidikan Islam adalah suatu kegiatan
pengarahan terhadap kinerja tenaga pendidik untuk memperbaiki suatu sistem
pembelajaran dan pengajaran, serta memasukkan kurikulum yang berbasis keislaman
terhadap mata pelajaran sehingga para tenaga pendidik dalam pengajarannya
dimasuki unsur-unsur keislaman agar tercipta anak didik yang religius dan
berintelektual. Alasan Supervisi pendidikan memilih label Islam karena dari
lembaga-lembaga Islam lah yang akan disupervisikan dan agar tidak bertolak
belakang dengan nilai-nilai Islam.
Supervisor sebagai pengawas pendidikan bertindak sebagai
stimulator, pembimbing dan konsultan bagi guru-guru dan perbaikan pengajaran
dan menciptakan situasi belajar mengajar yang baik. Oleh karena itu bagi
seorang supervisor harus memiliki beberapa kompetensi supervisor. Adapun
kompetensi supervisor adalah sebagai berikut :
1.
Kompetensi
kepribadian
2.
Kompetensi
supervisi managerial
3.
Kompetensi
supervisi akademik/profesional
4.
Kompetensi
supervisi penelitian/pengabdian
5.
Kompetensi
evaluasi
6.
Kompetensi
sosial
Selain
itu juga supervisi diharapkan mampu membawa dampak perkembangan yang baik bagi
kemajuan proses pengajaran melalui peningkatan kurikulum yang ada di sekolah
sebagai salah satu sarana dalam meningkatkan mutu pendidikan.
B.
TUJUAN SUPERVISI PENDIDIKAN
Sebelum mengarah kepada tujuan supervisi pendidikan, fungsi utama
supervisi pendidikan ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas
pengajaran. Sehingga tujuan supervisi pendidikan secara umum yaitu dengan
memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru agar mampu meningkatkan
kualitas kinerjanya, terutama dalam melaksanakan tugas yaitu melaksanakan
proses pembelajaran. Sedangkan tujuan khusus supervisi adalah :
1.
Membantu
guru dengan tujuan pendidikan dengan jelas
2.
Membantu
guru membimbing pengalaman belajar siswa
3.
Membantu
guru sumber dan pengalaman belajar
4.
Membantu
guru menggunakan metode dan alat pembelajaran
5.
Membantu
guru memenuhi kebutuhan belajar siswa
6.
Membantu
guru meningkatkan mutu pendidikan di sekolah
C.
MODEL-MODEL SUPERVISI PENDIDIKAN
1.
MODEL SUPERVISI KONVENSIONAL
Model ini tidak lain dari refleksi kondisi
masyarakat pada suatu saat. Pada saat kekuasaan yang otoriter dan feodal, akan
berpengaruh pada sikap pemimpin yang otrokrat dan korektif. Pemimpin cenderung
untuk mencari-cari kesalahan. Perilaku supervisi ialah mengadakan inspeksi
untuk mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Kadang-kadang bersifat
memata-matai (snoopervision), atau sering disebut supervisi yang korektif.
Lebih sulit untuk melihat segi-segi positif dalam hubungan dengan hal-hal baik
dari pada hanya mengoreksi kesalahan orang lain.
Menurut Briggs, jika adanya supervisor hanya
ditujukan untuk mencari kesalahan maka dianggap menjadi pemulaan yang tidak
berhasil. Karena hanya mencari-cari kesalahan dalam membimbing adalah
bertentangan dengan prinsip dan tujuan supervisi pendidikan. Akibatnya
guru-guru merasa tidak puas dan ada dua sikap yang tampak dalam kinerja guru
yaitu acuh tak acuh (masa bodoh) dan menantang (agresif).
2.
MODEL SUPERVISI ARTISTIK
Supervisi ini ingin menjadikan semua anggota sekolah diajak bekerja
sama, saling tukar ide, pemikiran dan cara mengelola dengan baik.
Ketika supervisor melakukan kegiatan supervisi dituntut
berpengetahuan, berketrampilan dan tidak kaku, dalam kegiatan supervisi juga
harus mengandung nilai seni.
Beberapa ciri yang khas tentang
model supervisi yang artistik, antara lain:
a) Supervisi yang artistik memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada banyak berbicara.
b) Supervisi artistik memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup/keahlian khusus, untuk memahami apa yang dibutuhkan seseorang yang sesuai dengan harapannya.
c) Supervisi yang artistik sangat mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.
d) Model artistik terhadap supervisi, menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas dan proses itu diobservasi sepanjang waktu tertentu, sehingga diperoleh peristiwa-peristiwa yang signifikan yang dapat ditempatkan dalam konteks waktu tertentu
e) Model artistik terhadap supervisi memerlukan laporan yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor yang supervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
a) Supervisi yang artistik memerlukan perhatian agar lebih banyak mendengarkan dari pada banyak berbicara.
b) Supervisi artistik memerlukan tingkat pengetahuan yang cukup/keahlian khusus, untuk memahami apa yang dibutuhkan seseorang yang sesuai dengan harapannya.
c) Supervisi yang artistik sangat mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda.
d) Model artistik terhadap supervisi, menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas dan proses itu diobservasi sepanjang waktu tertentu, sehingga diperoleh peristiwa-peristiwa yang signifikan yang dapat ditempatkan dalam konteks waktu tertentu
e) Model artistik terhadap supervisi memerlukan laporan yang menunjukkan bahwa dialog antara supervisor yang supervisi dilaksanakan atas dasar kepemimpinan yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
3.
MODEL SUPERVISI ILMIAH
Supervisi yang bersifat ilmiah memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.
Dilaksanakan
secara berencana dan kontinu.
b.
Sistematis
dan menggunakan prosedur serta teknik terencana.
c.
Menggunakan
instrument pengumpulan data
d.
Ada
data yang objrktif yang diperoleh dari keadaan yang riil.
Dengan menggunakan skala penilaian
atau check list para siswa atau mahasiswa menilai proses kegiatan
belajar-mengajar guru/dosen di kelas. Hasil penelitian diberikan kepada
guru-guru sebagai balikan terhadap penampilan mengajar guru pada semester yang
lalu.
4.
MODEL SUPERVISI KLINIS
Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada
peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematis, dalam perencanaan,
pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar
yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional.
Tahapan dari model supervisi ini adalah (1) Pertemuan awal
(perencanaan), (2) Observasi, (3) Pertemuan akhir.
Beberapa ciri Supervisi Klinis:
a) Fokus supervise klinis adalah perbaikan cara mengajar, bukan mengubah kepribadian guru.
b) Dalam supervisi klinis, bantuan yang diberikan bukan bersifat intruksi atau memerintah. Tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guru-guru memiliki rasa aman. Dengan timbulnya rasa aman diharapkan adanya kesediaan untuk menerima perbaikan.
c) Ada kesepakatan antara supervisor dengan guru yang akan disupervisi tentang aspek prilaku yang akan diperbaiki.
d) Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi. Harus dianalisa sehingga terlihat kemampuan apa, keterampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki.
e) Ada unsur pemberian penguatan terhadap prilaku guru terutama yang sudah berhasil diperbaiki, sehingga muncul kesadaran betapa pentingnya bekerja dengan baik serta dilakukan secara berkelanjutan.
f) Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
g) Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar tapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian guru, misalnya motivasi terhadap gairah mengajar.
a) Fokus supervise klinis adalah perbaikan cara mengajar, bukan mengubah kepribadian guru.
b) Dalam supervisi klinis, bantuan yang diberikan bukan bersifat intruksi atau memerintah. Tetapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guru-guru memiliki rasa aman. Dengan timbulnya rasa aman diharapkan adanya kesediaan untuk menerima perbaikan.
c) Ada kesepakatan antara supervisor dengan guru yang akan disupervisi tentang aspek prilaku yang akan diperbaiki.
d) Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi. Harus dianalisa sehingga terlihat kemampuan apa, keterampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki.
e) Ada unsur pemberian penguatan terhadap prilaku guru terutama yang sudah berhasil diperbaiki, sehingga muncul kesadaran betapa pentingnya bekerja dengan baik serta dilakukan secara berkelanjutan.
f) Suasana dalam pemberian supervisi adalah suasana yang penuh kehangatan, kedekatan, dan keterbukaan.
g) Supervisi yang diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar tapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian guru, misalnya motivasi terhadap gairah mengajar.
D.
PENUTUP
Demikian materi ini saya ketik dan saya bagikan di blog ini semoga
bermanfaat. Sumber yang saya ketik adalah materi yang saya catat dari bapak
Habibi Yusuf, S.Pd.I.,M.Pd.I. selaku dosen mata kuliah Supervisi Pendidikan
Islam ketika beliau menjelaskan di kelas. Sumber yang lain yaitu dari buku
Supervisi Pendidikan.
Sekian materi yang dapat saya sampaikan. Jika ada kurangnya itu
memang kodrat saya sebagai manusia biasa, jika ada lebihnya itu semata-mata
hanya milik Allah.
Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar